Rabu, 11 Januari 2012

CUKUP DENGAN BAJU


… cukup dengan kata baju, sudah dapat dipahami bahwa pasti seseorang tidak hanya memakai ‘baju’ tetapi juga celana atau rok sebagai bagian—yang  juga—penting  dalam struktur berpakaian.

Baju dapat dimaknai sebagai sesuatu yang digunakan manusia untuk menutupi tubuhnya. Lebih dari itu, secara spesifik baju kemudian seringkali hanya dipahami sebagai penutup tubuh bagian atas yang dapat dipadupadankan dengan ‘bawahan’ sejenis celana atau rok. Lalu kenapa cerpen ini memilih judul baju, bukan pakaian atau busana jelas-jelas lebih mengindikasikan kepada makna penutup tubuh yang lebih lengkap?
Sebagai bagian dari satuan berpakaian atau berbusana, pemilihan kata baju dalam judul cerpen ini tetap dapat dipahami sebagai pemberian makna sebagian untuk seluruh (mengandung majas sinekdok pars pro toto). Artinya, kita tidak perlu mengatakan pakaian atau busana untuk mengatakan bahwa seseorang menggunakan satu pasang (baju dan celana/rok), karena cukup dengan kata baju, sudah dapat dipahami bahwa pasti seseorang tidak hanya memakai ‘baju’ tetapi juga celana atau rok sebagai bagian—yang  juga—penting  dalam struktur berpakaian. Hal yang serupa dinyatakan oleh Drupadi dalam pergulatan batinnya:
Dursosono masih menarik bajuku, dan atas pertolongan Krisna, baju dan kainku tidak pernah terbuka. (Cerpen Pilihan Kompas: 91)

Dengan demikian, baju kemudian mengarahkan kita pada konsep komposisi berpakaian. Dan berbicara soal komposisi berpakaian maka hal pertama yang dapat dibayangkan adalah baju. Hal ini dikarenakan baju—jika dimaknai sebagai penutup tubuh yang dapat dipadupadankan dengan bawahan sejenis celana atau rok—pemakaiannya selalu ditempatkan di bagian teratas, sebagai awal mula. Kemudian saat ia telah dipasangkan dengan ‘bawahan’ sejenis celana atau rok, maka lengkaplah ia sebagai pakaian atau busana yang lengkap. Namun yang perlu diperhatikan,  sebagai penutup yang terletak di bagian paling atas, baju memiliki potitioning yang sangat penting dalam mengartikan harga diri, sebagai sesuatu yang sangat penting dalam diri seseorang dan perlu dijaga (baca: ditutup) selayaknya baju menutup setiap lekuk tubuh manusia.
Penjagaan harga diri bagi setiap orang merupakan hal mutlak, seperti halnya seseorang yang waras sangat mementingkan penggunaan baju, terutama bagi seorang permaisuri, istri keturunan raja-raja Hastinapura yang juga anak raja seperti Drupadi dalam cerpen ini. Bagi Drupadi, baju yang dikenakannya sama dengan harga dirinya. Oleh karenanya, menanggalkan  baju apalagi di hadapan orang selain suaminya merupakan pencopotan harga diri yang sungguh tidak manusiawi. Seperti yang diungkapkan oleh Drupadi:
Duh Gusti…, mereka membuka bajuku, sepertinya aku ini budak atau pelacur. Tidak pernah aku diperlakukan seperti ini. Tubuh perempuanku adalah ekspresi dari seluruh jiwa ragaku. Aku selalu menuntut mereka memperlakukan aku dengan perasaan yang saling menghormati…
…aku memohon pada Dewata untuk mati saja daripada  dihina seperti ini.
(CPK 2005: 90)
           
            …ketika Dursosono membuka bajuku, kemarahan meledak di hatiku.
(CPK 2005: 92)

Lewat penggambaran di atas, seolah Drupadi hendak mengungkapkan bahwa apa yang ada dan dilindungi di balik bajunya adalah sesuatu yang sangat berharga. Ia menganggap perlakuan mempermalukannya dengan cara membuka bajunya, tidak lebih sebagai ajang merendahkan derajat, terlebih menempatkannya pada posisi yang sama tidak berharganya seperti budak atau pelacur. Dan jika sampai hal itu terjadi maka artinya Drupadi telah kehilangan harga dirinya, harga diri yang selama ini ia simpan baik-baik “di balik bajunya”.
 Berbicara soal baju, maka pada teks lain dalam cerpen ini justru berbicara soal baju dalam makna yang lain: kupilih satria yang berbaju brahmana (CPK 2005: 93). Baju dalam kalimat ini membawa kita pada persepsi soal status dan kedudukan sosial sesorang dalam masyarakat. Status sosial ini diasumsikan melekat pada diri seseorang seumpama baju yang melekat pada kulit.

Mimpi Drupadi Seolah Menjadi Kenyataan
            Struktural memandang bahwa ada keterkaitan antara tanda yang satu dengan tanda lainnya. Demikian halnya dengan peristiwa pencopotan baju yang dialami oleh Drupadi. Terkait dengan hal tersebut, sebetulnya Drupadi telah menangkap tanda-tanda yang sebelumnya ia tidak pahami lewat mimpi-mimpi yang didapatnya.
… Rasanya aku sudah mempunyai firasat dan mimpiku yang berturut-turut bahkan sempat kuceritakan pada suami-suamiku bahwa aku tidur telanjang dan diperkosa oleh penjahat-penjahat Hastinapura. (CPK 2005: 92)

Dalam konteks tersebut, Drupadi sebetulnya sudah memiliki firasat bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk berkaitan dengan harga dirinya, terutama soal bagian-bagian tubuh yang ditutupnya dengan baju dan kain. Hal ini menandakan bahwa mimpi yang dialami oleh Drupadi merupakan tanda akan terjadinya perlakuan tidak senonoh yang akan dilakukan oleh Dursosono, meskipun mungkin pada saat tanda itu muncul (baca: mimpi) Drupadi ataupun orang-orang di sekelilingnya belum menyadari bahwa mimpi sebagai tanda.
Suami-suamiku dengan santun mendengarkan ceritaku, tetapi tidak mempercayai mimpiku. Undangan dari Hastinapura mengharu-birukan perasaan mereka dan setiap kecemasanku tidak pernah dianggap oleh mereka. Bahkan mereka dengan asyiknya berlatih main dadu (CPK 2005: 92).

Alih-alih tidak menyadari mimpi sebagai tanda, suami-suami Drupadi justru tidak mempercayai  mimpi yang dialami Drupadi. Padahal, tanpa disadari justru perwujudan mimpi Drupadi tengah mulai diupayakan perwujudannya lewat usaha mereka untuk memenuhi undangan bermain dadu dengan giat berlatih. Mereka semakin tenggelam dalam jebakan yang dirancang oleh Hastinapura, sehingga seperti kehilangan akal para suami itu kemudian mempertaruhkan istrinya sendiri, Drupadi, sebagai taruhan di meja judi.
Aku sebetulnya sudah melarangnya. Tapi, suami-suamiku yang perkasa tidak memedulikan naluri seorang istri. Mereka bilang, perjudian ini cuma menghormati tuan rumah yang sudah mengundang kita (CPK 2005: 89).

Betul-betul para suami tidak mau mempercayai tanda yang memungkinkan terjadinya celaka bagi mereka. Padahal sebelumnya, bahkan firasat Drupadi sudah diyakinkan oleh desas-desus yang didengarnya dari para dayang, seperti yang dikutip dalam teks berikut. 
Di kapuntren, para dayang sudah berbisik bahwa permainan dadu itu sudah dibuat sedemikian rupa sehingga para pandawa pasti kalah (CPK 2005: 90).

Dengan demikian, pencopotan baju yang hendak dilakukan oleh Dursosono sebetulnya merupakan ujung dari keterikatan dan keterkaitan dari tanda-tanda yang muncul mulai dari undangan berjudi dan rencana curang para pandawa sampai pada mimpi yang dialami langsung oleh Drupadi, namun tidak dipercayai oleh para suami Drupadi sebagai tanda akan hilangnya harga diri Drupadi—pecopotan baju.

(tulisan merupakan latihan analisis struktural cerpen Baju karya Ratna Indraswari Ibrahim dalam mata kuliah Teori Sastra Program Pasca Sarjana Univ. Indonesia) 

RUMPIN: DARI SENGKETA LAHAN TNI AU SAMPAI UPAYA MODERNISASI


Pendahuluan
Kekuasaan sangat penting dalam hal kelangsungan menerapkan dominasi. Kekuasaan itu sendiri sangat berkaitan dengan hak kepemilikan atas sesuatu. Dalam sebuah wilayah, kekuasaan kerap diidentikkan dengan berapa banyak seseorang memiliki lahan di wilayah tersebut. Tidak heran—terutama di pedesaan—orang yang berkuasa menerapkan kekuasaannya lewat kepemilikan lahan seluas-luasnya, sehingga muncul kemudian istilah tuan tanah atau juragan tanah. Konsep tersebut tidak hanyak berlaku untuk perseorangan, melainkan juga untuk lembaga atau instansi. Penerapan konsep tersebut pada akhirnya memicu kemunculan praktik-praktik pengambilan lahan lewat berbagai cara. Pengambilan lahan yang kemudian berujung pada konflik sengketa tanah antara penggugat—yang berkuasa—dengan orang yang tidak berkuasa.
Kasus pengambilan dan penguasaan lahan tersebut semakin sering terdengar terutama mulai tahun 2009. Meskipun upaya pengambilan lahan tersebut seringkali terjadi antara aparat/intansi pemerintah dengan warga sipil, namun muncul kecurigaan karena hal tersebut terjadi di tengah maraknya pembangunan komplek atau tempat usaha (ruko/rukan) yang kesemuanya berujung pada kepentingan kapitalisme. Dan apabila hal ini betul terjadi, maka kecurigaan selanjutnya adalah bahwa dalam setiap pengambilan lahan di dalamnya terdapat upaya mengubah orientasi dan bentuk ruang publik (meskipun dilakukan dengan menggunakan nama kepentingan oknum/instansi pemerintah). Kiranya fenomena ini yang tengah berlangsung di wilayah kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor.

Rumpin: Ruang Publik yang Potensial
            Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor merupakan sebuah wilayah yang terletak di ujung utara Kabupaten Bogor. Sedikitnya terdapat lima desa/kelurahan tergabung dalam kecamatan yang luasnya hampir mencapai 40 Ha tersebut. Dilihat dari luasnya, kecamatan tersebut tentu sangat potensial terutama mengingat banyaknya sumber daya alam yang terkandung di setiap desanya, selain dari masih tersedianya lahan kosong dalam jumlah yang besar. Setiap harinya, tidak sedikit material alam yang dikeruk mulai dari pasir, batu, hingga tanah merah.
            Sumber potensi lainnya adalah keberadaan kecamatan ini yang sangat berdekatan dengan Kota Tangerang Selatan, terutama dengan lahan pembangunan      PT. Bumi Serpong Damai yang kian hari kian melebar hampir ke seluruh pelosok. Kedekatan jarak ini yang kemudian mempengaruhi kecamatan Rumpin, terutama desa Sukamulya untuk kemudian secara ekonomi dan kehidupan sosial mulai berkembang dan semakin meningkat setiap waktunya.

Kekuasaan Simbolik Negara Lewat Kehadiran TNI AU
            Pertengahan tahun 2009 ketersedian lahan yang masih kosong mulai terendus oleh aparat pemerintahan, dalam hal ini TNI AU. Praktik pengambilan lahan seluas 1Ha mulai dilakukan dengan dalih kepentingan negara: penyediaan pemukiman yang layak bagi para anggota tentara. Sebagai penjelasan disampaikan bahwa pembangunan pemukiman ini penting dilakukan mengingat ketersediaan lahan di komplek TNI Atang Sandjaya Kabupaten Bogor sudah tidak lagi dapat mencukupi. Hal ini sangat mencolok, terutama saat pengambilan lahan pada awalnya justru dilakukan pada lahan berpenduduk bernama Kp. Cibitung. Kekerasan terjadi demi kepentingan kelancaran pengambilan lahan, sedangkan masyrakat setempat tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya menerima kenyataan bahwa “demi kepentingan negara” mereka harus terusir dari  tanah yang selama ini mereka tempati. Hal ini menandakan bahwa betapapun kecilnya kekuasaan itu diterapkan, maka dalam kondisi tersebut akan muncul tokoh penguasa (mendominasi) dan tokoh yang didominasi (yang seringkali wujudnya muncul  dalam wajah rakyat jelata). Celakanya, rakyat sebagai tokoh yang didominasi tidak dapat berbuat banyak karena justru dominasi tersebut muncul dalam bentuk kuasa Negara yang notabene merupakan kekuasaan paling tinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini kemudian yang disebut oleh Bourdieu sebagai kekuatan dari kapital simbolik.
            Belakangan, mulai tahun 2010 sengketa tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Kp. Cibitung, tetapi juga mengancam Keseluruhan kecamatan Rumpin. Dengan luas total 40 Ha lahan yang diklaim, TNI AU mengungkit bahwa itu merupakan hal yang sewajarnya mengingat kecamatan Rumpin dalam sejarah dicatat sebagai salah satu wilayah peperangan pada masa penjajahan Jepang. Hal ini semakin tidak logis, mengingat tidak ada keterkaitan sejarah, terutama mengingat masyarakat yang saat ini menempati lahan pada mulanya melakukan transaksi jual beli yang sah dan mendapatkan sertifikat dari aparat setempat.  Ketidaklogisan ini kemudian seolah dipatahkan oleh keputusan menteri Keuangan Indonesia yang menyatakan bahwa lahan tersebut memang milik negara. Legitimasi yang bahkan tidak diberikan oleh bagian hak kepemilikan lahan. Tentu ini semakin menunjukkan adanya indikasi kepentingan ekonomi yang ditonjolkan.
            Seiring perkembangan waktu, meskipun pada praktiknya perluasan lahan tersebut belum lagi diteruskan. Paling tidak fenomena itu sudah cukup mempengaruhi pola piker masyarakat setempat yang secara praksis merasa tidak mendapat pembelaan negara, justru sebaliknya justru negara yang seolah menjadi momok yang menakutkan bagi mereka.

Legitimasi Kuasa Berlapis: Kedok Kepentingan Kapitalisme
            Di tengah isu adanya kemungkinan pengambilan lahan, hal yang sangat kontras justru terjadi. PT. Bumi Serpong Damai (BSD) justru belakangan diketahui menguasai beberapa lahan strategis di Kecamatan Rumpin dalam jumlah yang cukup besar. Bahkan, di Kp. Cicangkal pembangunan komplek pemukiman untuk kelas menengah pada saat ini sudah hampir rampung dikerjakan. Hal ini tentu semakin menimbulkan kecurigaan. Bagaimana bisa, di tengah kekhawatiran masyarakat atas pengakuan lahannya oleh aparat, justru BSD dapat dengan leluasanya melakukan pembangunan?
            Hal ini tentu memicu asumsi publik bahwa isu pengambilan lahan dapat saja dilakukan alih-alih untuk memberi keluasaan bagi “orang-orang yang berkepentingan” dalam hal meraaup keuntungan sebanyak-banyaknya. Sesuatu yang tentunya berujung pada kapital ekonomi (baca: kapitalisme). Sampai di sini dapat terlihat bahwa kelancaran perolehan kapital ekonomi tersebut tidak terlepas dari kepentingan politik (kekuasaan) dan ruang sosial (prestise) kelompok yang bersangkutan. Dalam hal ini, BSD tentu memiliki semuanya. Dukungan dari banyak pihak sebagai perwujudan legitimasi kuasa berlapis yang kemudian memberikan keuntungan kepada sebagian pihak yang bukan masyarakat kebanyakan.

Komplek Tirtawana BSD: Upaya Modernisasi Perkampungan
            Upaya modernisasi tentu sangat erat kaitannya dengan upaya mengubah sebuah ruang publik. Seperti latah, daerah-daerah pelosok seolah beranggapan bahwa model kehidupan perkotaan sudah layak diadaptasikan di wilayahnya masing-masing. hal itu yang dicurigai sebagai alasan betapa mudahnya proyek-proyek pembangunan seperti yang dilakukan oleh BSD dengan mudah memperoleh perizinan. Demi memperloeh predikat desa berkembang aparat seolah tutup mata akan kemungkinan dampak yang terjadi dalam ruang sosial yang selama ini telah tumbuh dan berkembang. Masyarakat seluruhnya dipukul rata sebagi konsumen yang sangat membutuhkan hidup dalam ruang yang tertutup sebagaaimana yang ditawarkan dalam konsep komplek pemukiman.
            Komplek Tirtawana yang dikembangkan oleh BSD di tengah pemukiman kampung tampak sebagai upaya kemodernan yang pincang. Tawaran modern hanya sebatas dalam bentuk fisik, bangunan yang dari luar tampak kokoh dan aman. pada gerbang terdapat satpam sebagai simbol kemanan. Ada beberapa persoalan yang muncul akibat fenomena ini: Pertama,  kemodernan yang ditawarkan tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat perkampungan secara menyeluruh. Standar kebutuhan masyarakat perkampungan adalah adanya rasa kekeluargaan (guyub) antar masyarakat yang tentu sulit diperoleh dalam penerapan konsep komplek pemukiman. Setiap individu akan hidup dengan cara dan pola pikir yang berbeda satu sama lain. Kedua, adanya kemungkinan masyarakat setempat pada mulanya tidak akan menjadi bagian dari komplek tersebut. Hal ini dimungkinkan oleh beberapa hal seperti tingginya harga yang dipatok perusahaan atau kondisi rumah yang terlalu kecil untuk ukuran masyarakat kampung yang notabene memiliki keluarga dalam jumlah yang cukup  banyak. Hal yang sebaliknya justru berlaku bagi masyarakat pinggiran kota yang berada pada posisi kelas menengah cenderung ke atas.  Dibandingkan dengan harga di perkotaan, harga berkisar di angka 100 juta menjadi tawaran yang menggiurkan bagi golongan masyarakat tersebut. Hal tersebut dikarenakan focus yang mereka cari adalah kepemilikan atas sebuah rumah, bukan soal seberapa besar rumah yang nanti akan mereka diami. Dengan demikian, kehadiran komplek pemukiman di wilayah perkampungan Cicangkal pada dasarnya justru member keuntungan bagi orang-orang di luar masyarakat Cicangkal itu sendiri. Sedangkan sebagai pribumi, masyarakat Cicangkal justru hanya menjadi penonton di tengah gegap gempita kemodernan yang digembor-gemborkan. Kemodernan yang sebetulnya rapuh dan belum lagi diperlukan oleh masyarakat kampung seperti Kampung Cicangkal.
            Namun demikian, kehadiran komplek Tirtawana sebetulnya sudah sangat mempengaruhi ruang publik di kampung Cicangkal. Betapa tidak, lahan yang dahulunya merupakan tempat masyarakat bertani dan mendapatkan nafkah hidup saat ini sudah berubah menjadi sekumpulan rumah “orang baru” yang secara kasat mata sulit dibaurkan karena adanya tembok-tembok pemisah antara warga pemukiman komplek dengan warga kampung. Meskipun pada akhirnya, interaksi dapat juga dilakukan, di mana warga setempat mungkin akan ada yang menjadi pembantu di rumah-rumah tersebut. Akan tetapi kondisi tersebut tidak dapat secara serta merta mengangkat masyarakat kampung kepada kemodernan yang hakiki. Karena sekali lagi, masyarakat kampung hanya dijadikan sebagai penonton karena berada pada posisi lebih di bawah orang-orang yang justru hanya pendatang.

(tulisan merupakan kritik atas fenomena dalam ruang publik yang diajukan dalam mata kuliah Teori Kritis, Dosen: Manekke Budiman)

Selasa, 10 Mei 2011

mengenangnya

5 desember 1997
apabila seperti hari/tanggal lain
hari itu sudah semestinya semakin tidak lagi berbekas
jika saja sebuah peristiwa tidak menandai perbedaan dengan hari/tanggal lainnya

hari itu,
semua orang ramai memenuhi kediamanku yang kecil
di tengah keramaian itu,
ada seseorang yang tengah "dipersiapkan"
(baru tahun-tahun berikutnya kutahui itulah prosesi mengkafani)

"cium mama neng..."

bergantian kami, tiga bersaudara, memberikan ciuman
(yang baru kutahui belakangan, bahwa itu adalah salam terakhir untuk perpisahan yang panjang)

tidak ada air mata saat itu.
tidak juga muncul rasa sakit di dada.

berbeda dengan tahun-tahun berikutnya
(saat peristiwa itu justru sudah terlampaui)

air mata seringkali menetes,
dan saat itu maka dada seakan terasa penuh sesak.

ya rabbiiiii...
semoga Engkau selalu melembutkan hati ini,
untuk selalu mengingat dan mengenangnya
sehingga tentunya sering mengirimnya sepucuk pesan rindu
dalam bungkus doa yang panjang:
"ampunilah semua dosa-dosanya,
terimalah amal ibadahnya,
tempatkan ia di tempat terbaik,
jauhkanlah ia dari siksa kubur, apalagi siksa api neraka
dan pertemukanlah kami (kelak) di hari akhir dengan penuh kebahagiaan"

amin.

(dan untuk sesaat, sesak itu pergi beserta doa panjang)

betul: saya sangat senang jika harus mengenalmu sebagai teman

2006--
ini adalah tahun pertama program pembelajaran intensif dimulai
saat ini saya berusia 21 th.
artinya, ini tahun ketiga sejak terakhir saya masih dikenal sebagai siswa
namun begitu, sekarang saya sudah mulai menapaki jejak lain sebagai mantan siswa  d sekolah ini
saya datang sebagai pengajar, namun saya masih muda
belum lagi saya juga belum merampungkan kuliah saya
tapi, karena itu pula, saya masih merasa belum begitu berjarak dengan calon-calon siswa saya
maka saya biarkan mereka tetap menganggap dan memanggil saya kakak
saya merasa sangat nyaman dengan itu
saya bahkan seringkali bermalam dan tidur seranjang dengan mereka--yang memanggil saya kakak
sekali lagi: saya merasa sangat nyaman


2007--
tahun kedua ini saya lalui, mereka yang kemarin-kemarin memanggil saya kaka sudah tergantikan
tapi, saya masih jadi kakak mereka
dan saya juga membiarkan pengganti mereka memanggil saya dengan kakak
saya sungguh merasa nyaman
dan saya masih sama seperti tahun sebelumnya. hanya datang sesekali, saat pelajaran akan berlangsung

2008--
di tahun ini saya lulus dan mendapat gelar sarjana
tapi saya tetap ingin semua dari mereka memanggil saya kakak
saat itu, penghujung tahun, saat paman saya berpulang
karena itu, beban mengajar itu kini bertambah
tapi mereka tetap kuminta memperlakukanku sebagaimana seorang kakak
meski kakak yang sangat cerewet tentunya
dan saya semakin menjadi cerewet lantaran dibebani oleh keharusan menjaga mereka
bukan hanya sebagai kakak, tapi lebih jauh: sebagai seorang dewasa
mengatur dan memmberi orang banyak aturan

2009-2010--
tahun-tahun ini, semakin berat
saya bukan lagi kakak seperti dulu, waktu pertama kali belajar mengajar d tahun 2006
tidak jarang saya merasa bergidik kala ada sebagian dari mereka memanggil saya ibu
mulai denga mengajar, kemudian menjaga, saya pada akhirnya masuk pada sistem pendidikan formal mereka
saya masih menginginkan mereka memanggil saya  kakak
tapi mulai banyak yang memandang saya sebagai sosok yang benar-benar dewasa
memberi arahan, didikan, bahkan aturan
mulai banyak yang melupakan bahwa saya juga dahulu berasal dari tempat ini
dan kemudian membanding-bandingkan saya dengan orang-orang muda yang nampak masih begitu "longgar"
tanpa embel-embel: dia itu sekarang guru, mereka tetap diperlakukan sebagai kakak

2011--
jadi pengajar, pembina, sudah cukup menentukkan posisi saya
tapi
tahun ini, kemudian juga bertambah saya mendapat tempat sebagai pemutus kebiajakan
sejujurnya, itu bukan hal yang sangat menggembirakan
dilihat dari sudut tertentu: saya semakin dicitrakan sebagai orang dewasa
yang memberikan aturan
hal itu tentu semakin melunturkan citra kakak yang selama ini saya bangun
lihat saja, sudah begitu banyak yang memanggil saya dengan sebutan ibu



-- saya bukan mau menyiasati hidup dengan membangun citra gadis muda sepanjang hidup lewat sapaan kakak.
hal ini lebih karena saya terus berangan agar masih ada orang-orang yang memahami dan memandang saya sebagai orang biasa yang kemudian terikat dan berada dalam lingkaran aturan yang harus saya  jalankan dan saya terapkan pada orang lain.
saya terus berangan "andai saja setiap orang yang baru mengenal saya justru melihat saya sebagai bukan siapa-siapa, hanya seorang teman, bukan sebagai "pengatur".
sehingga, semuanya pasti terlihat lebih menyenangkan.

betul: saya sangat senang jika harus mengenalmu sebagai teman.
karena dengan begitu, mungkin kalian akan lebih menerima saya dibandingkan sekarang.
namun bagaimanapun, saat ini saya kadung berada dalam lingkaran itu
dan saya pasti akan nampak rumit dengan seabreg aturan yang ada
semoga kalian lambat laun memahaminya.
seperti juga halnya saya selalu belajar memahami diri saya yang sekarang ini.

Minggu, 08 Mei 2011

kilau mega di penghujung hari

Semburat emas awan oleh sinar matahari yang hampir padam
selingannya merupakan langit biru yang kian pupus;
siap digantikan pekat malam tenang 
seperti ada padanya kebebasan,
bahagia untuk sesuatu yang kekal

aku cemburu tentu,
betapa kemilau itu begitu menyimpan keceriaan yang meletup-letup
yang tidak peduli akan datang padanya gelap petanda tibanya malam

sekali lagi, aku dibuatnya iri bukan kepalang
kilau mega di penghujung hari
(petang; dalam perjalanan 2011)






Senin, 07 Februari 2011

Kisah Awal Semester


Komunitas An Najah: Belum Lagi Tergali dengan Baik

Mengenal An Najah sekarang, tidak lagi akan sama dengan ketika saya masih menjadi salah satu siswa. Namun, kiranya tetap ada setitik yang menyemburatkan persamaan di antara keduanya. An Najah belum lagi berdiri optimal. Di dalamnya, masih banyak komponen yang mati suri, menunggu untuk dibangunkan dan menemukan pemahaman dari najah itu sendiri, kesuksesan.
Saat saya berganti peran—dari siswa, menjadi alumni, dan sekarang menjadi salah satu tenaga pengajar di tk. SMA, titik persamaan itu saya temukan dari adik-adik yang kini menjadi murid saya.  Jika dianalogikan, akan menjadi yang demikian.

Pada Senin, hari yang mengawali keseluruhan minggu. Terlihat para siswa belum lagi terbangun, masih asyik dengan mimpinya. Adapun ada yang sudah terbangun, ia seperti limbung dengan hari yang akan dihadapinya. Karena itu, ia memilih untuk duduk lebih dulu di beranda rumah, sambil memperhatikan orang-orang lalu lalang.

Selasa, ia baru bersiap untuk pergi mandi. Dengan membawa cawan berisi peralatan seadanya. Ia tidak peduli bahwa di luar sana, orang-orang bahkan sudah mandi untuk ke sekian kalinya.
Rabu, setelah sarapan, siswa telah siap untuk berangkat sekolah. Akan tetapi, malangnya, belum lagi ia sampai ke sekolah, ia harus bertengkar dengan kondektur bus yang tidak mau memberikan uang kembalian ongkosnya. Turun dari bus, ia kemudian dimintai tolong dengan paksa oleh seorang tua untuk membantunya menyebrang jalan.

Baru di hari Kamis, siswa sampai di sekolah. Saat itu, dalam kepalanya masih terngiang-ngiang ocehan kondektur yang curang dan rengekan si tua yang menggeramkan. Ia tidak sadar, bahwa saat kepala mendongak, baru saja guru terakhir member salam dan bersiap untuk meninggalkan kelas.
Ini sudah Jumat, siswa berusaha dengan sangat keras untuk menebus semua ketertinggalannya. Tapi sangat mengejutkan, ternyata hari ini guru yang kemarin sudah mendapat wangsit. Dia begitu bersemangat. Dipacu semua muridnya dengan sejuta angan-angan  tentang sukses masa depan. Tebak yang terjadi, siswa tidak menolak, meskipun ia belum lagi tahu apakah dirinya mampu. Tapi, siswa mau mencoba, mau diajak, mau diberi ruang berangan. Justru dalam ruang itu, kemudian siswa mencoba tertatih, bahkan belajar untuk berlari.

Semalam suntuk siswa berusaha.

Di sabtu pagi,,,siswa betul-betul sudah pandai berjalan, berlari, bahkan melompat dan menari. Semua orang tertegun., termasuk dirinya sendiri. Di titik itu kemudian semua menginsyafi, bahwasanya setiap diri mengubur potensi. Perlu untuk dirinya dan orang di sekelilingnya untuk berusaha mengambil cangkul untuk kemudian menggalinya. Jangan lupa, masukkan ke dalam lubang yang telah digali tersebut dengan bibit bunga, sayur, buah, atau tumbuhan terbaik. Setelah itu, jangan lupa untuk memberinya waktu untuk tumbuh, tutuplah lubang itu. Maka benih-benih itu akan terpaksa untuk berusaha mencari jalan keluar, dan lihatlah,,,bibit itu keluar dan memperlihatkan bentuk yang paling indah.

Dengan demikian,,,di hari Minggu, kita tinggal menikmati keindahan itu terhampar, menjadi bagian dari ribuan tumbuhan yang juga tumbuh indah di kebun yang terpelihara. (Imas Uliyah)